Pentingnya Tauhid Dalam Diri Seorang Auditor

Pentingnya Tauhid Dalam Diri Seorang Auditor

Tuesday, January 07, 2020

Oleh: Didi Permadi Sukur
Jurusan Akuntansi 

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam 
UIN Alauddin Makassar


KLIKSULSEL.COM - Dengan memahami Teologi Ekonomi, setiap pelaku ekonomi seperti apa yang dikatakan Mustaq Ahmad akan berupaya sekuatnya untuk meniru sifat-sifat Tuhan dan merealisasikannya dalam aktivitas ekonominya. Bahwa tauhid kemudian benar dapat mulai diyakini lewat doktrin kalimat syahadat yang tersusun dari satu pernyataan negasi (peniadaan) dan satu lagi pernyataan afirmasi (penegas). 

Pernyataan yang pertama: la ilaha illallah, “Tidak ada Tuhan (Realitas, yang mutlak)  selain Tuhan (Allah)”. Pernyataan yang kedua: Muhammadurrasulullah, “Muhammad (yang “dimuliakan” yang sempurna”) adalah utusan (juru bicara, penengah, manifestasi, lambang) Allah”

Tauhid menempati posisi yang sangat penting dalam diskursus ekonomi dan segala yang berkaitan dengannya. Tauhid dapat melahirkan dua kesadaran dalam diri setiap muslim. Pertama, setiap orang harus menyadari bahwa alam ini merupakan ciptaan Allah Swt. yang diperuntukkan untuk kesejahteraan manusia dan tentu saja Allah sebagai pemilik mutlak.

Poto: Didi Permadi Sukur

Dalam ajaran Islam, posisi aspek ekonomi dalam bermuamalah menjadi nomor dua. Seorang auditor muslim wajib meyakini bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah SWT, maka di dalam ajaran Islam seluruh aktivitas mulai dari ibadah ritual dan bermuamalah harus dilakukan dengan tujuan mendapatkan ridho Allah SWT.

Posisi manusia hanyalah sebagai pemegang amanah, termasuk materi dan profesi yang telah dititipkan Allah SWT. Allah SWT memberi amanah tersebut untuk dipertanggungjawabkan dengan memanfaatkan amanah yang telah dititipkan untuk melakukan kebajikan. Jalan bermuamalah juga adalah upaya dalam rangka beribadah kepada Allah SWT, tentu saja dengan menyekutukan Allah SWT dalam melaksanakan ibadah tersebut dan tidak berorientasi untuk mendapatkan ridho Allah SWT tidaklah tepat.

Keyakinan bahwa bertauhid tidak hanya menjadikan kita pribadi yang lebih baik di hadapan Allah Swt, tapi juga menjadikan kita sebagai pribadi yang mampu memberi sumbangsi terhadap kehidupan bermasyarakat. Untuk seorang auditor jelas saja dengan cara bersikap jujur dalam menjalankan profesinya. Seorang auditor dituntut untuk menjalankan profesinya dengan professional. Sikap profesional tersebut adalah manifestasi dari bersikap ihsan dan menunaikan amal shaleh. Artinya dengan bertauhid maka sudah seharusnya seorang auditor mampu bersikap adil, juga bisa menjaga independensi dan kode etik profesinya sebagai sumbangsi dalam kehidupan bermasyarakat.

Seorang calon auditor harus mempunyai basic keilmuan akuntansi yang didapatkan lewat jenjang pendidikan formal. Sebagai pelayan publik, auditor memainkan peran yang sangat penting dalam menilai kewajaran laporan keuangan.

Auditor memiliki kontrak berupa kewajiban etis kepada investor, kreditur, karyawan, dan mitra strategis untuk melakukan tugas pemeriksaan laporan keuangan. Dalam peranan seorang auditor sebagai pelayan publik tentu independensi, integritas, kejujuran, objektivitas dan keberpihakan auditor menjadi sangatlah penting. 

Keberpihakan yang dimaksud adalah keberpihakan yang tidak hanya menguntungkan satu pihak saja. Apabila semangat independensi ini tidak terpatri dalam hati sanubari seorang auditor maka perannya sebagai auditor bisa dikatakan tidak bermanfaat lagi.

Seorang auditor seharusnya memegang nilai-nilai humanistik dengan tidak hanya memikirkan kepentingan pribadinya sendiri. Seorang auditor harus memiliki kesadaran akan tanggungjawab profesinya yang berhubungan erat dengan kepentingan masyarakat banyak.(*)


TerPopuler