Iklan

Iklan

H Dahlan Ware, Dermawan Muhammadiyah Asal Wajo

Sunday, August 16, 2020 WIB Last Updated 2020-08-16T10:33:38Z

 


Haji Dahlan Ware, Dermawan Muhammadiyah Wajo

Oleh : Haidir Fitra Siagian




Pada masa-masa awal mendirikan, mengurus, dan membesarkan Persyarikatan Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang pengusaha sekaligus pedagang batik. Beliau menjajakan dagangan dari kota ke kota di sekitar Yogyakarta, Jawa, dan sekitarnya. Keuntungan dari berdagang tersebut, sebagiannya dipakai untuk mengurus Muhammadiyah. Mulai dari mendirikan sekolah,  menyiapkan perlengkapan-perlengkapan sekolah, juga menggaji guru. Dengan cara ini, gerakan Muhammadiyah dapat berkembang, karena antara lain didukung dengan dana yang memadai.




Di berbagai tempat, pendirian cabang-cabang Muhammadiyah, banyak dipelopori oleh para pedagang dari pulau Jawa yang berlayar ke seluruh pelosok negeri. Termasuk kedatangan Muhammadiyah ke Makassar dan Sengkang, dibawa oleh para pedagang awal sekitar tahun 1920-an. Salah satunya adalah Haji Mansyur Yamani, seorang keturunan Arab yang datang dari Jawa dan pada akhirnya menetap di Makassar. Beliau adalah seorang pedagang batik dan pakaian. Karena dia adalah seorang pedagang, sehingga memiliki pengaruh yang cukup kuat di kalangan masyarakat. Status sosialnya menjadi lebih tinggi, sehingga banyak warga masyarakat yang mengikuti acara pengajian yang dia adakan.




Di kampung saya dulu di Sipirok Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, sebagian besar pengurus Muhammadiyah adalah pedagang di Pasar Sipirok. Mereka adalah para pemilik toko kelontong, perabot rumah tangga, sembako, penjual bahan bangunan, toko emas, penjual tembakau juga pemilik angkutan umum dan tukang cukur.  Beberapa diantaranya yang sempat saya ingat adalah H. Borkat Hutasuhut, H. Mora Sitompul, H. M. Arsyad Siregar, H. Dirin, H. Sofyan Hutasuhut, H. Nasaruddin Hutasuhut, dan H. Fahmi Harahap. Kesemuanya telah berpulang ke rahmatullah. Para penjual tersebut memiliki posisi sosial yang cukup baik di tengah-tengah masyarakat khususnya di Pasar Sipirok. Mereka di dengar dan diikuti. Karena apa? Karena memiliki dana. Dengan dana yang mereka miliki, amal usaha Muhammadiyah di Sipirok, dapat dibangun. Mulai dari perguruan Muhammadiyah, Masjid Taqwa dan Pesantren Modern Ahmad Dahlan Sipirok. Sebuah Cabang Muhammadiyah mendirikan pesantren pada tahun 1970-1980-an adalah suatu prestasi tersendiri.




Demikian pula di daerah-daerah lain. Kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah, salah satunya adalah karena ada pengusaha atau pedagang yang mendukungnya. Mereka menjadi pengurus, penggerak dan sekaligus sebagai penyandang dana utama. Kabupaten Wajo adalah salah satunya. Di Sulawesi Selatan, salah satu basisnya Muhammadiyah adalah kabupaten yang dikenal sebagai penghasil tenun sutra ini. Mulai dari Kota Sengkang, Belawa, Maniangpajo, hinggga Jauh Pandang, terdapat warga Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah yang cukup banyak. 




Di kabupaten ini, Muhammadiyah memiliki keunggulan tersendiri. Selain memiliki banyak amal usaha, kader-kader Muhammadiyahnya pun sangat loyal dan memiliki dedikasi yang tinggi. Kabupaten Wajo adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, yang bupatinya dijabat oleh kader tulen Muhammadiyah. Dr. H. Amran Mahmud, M.Si. Beliau berkiprah mulai dari bawah. Ikatan Pelajar Muhammadiyah sampai kepada Pemuda Muhammadiyah. 



 

Saya tiba di Makassar atau Ujung Pandang tahun 1990, merantau ketika  masih 16 (enam belas) tahun. Tak lama setelah itu, diadakan Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Kota Sengkang Kabupaten Wajo. Datang dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu adalah H. Ahmad Azar Basyir, M.A. (alm). Saya sendiri tidak sempat hadir ke sana. Tapi saya ingat kegiatan di kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Jalan Gunung Lompobattang No. 201 adalah sangat ramai. Mempersiapan acara musyawarah tersebut. Ketua Panitia Musywil saat itu adalah Drs. H. M. Tahir Fatwa dan Sekretarisnya, Drs. H.M. Husni Yunus. Keduanya telah mendahului kita memenuhi panggilan Sang Pencipta. Insya Allah husnul khatimah.




Pertama kali saya berangkat ke Kota Sengkang adalah sekitar tahun 1996. Bersama dengan Saudara Abdul Azis Ilyas, Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Kami berangkat dengan naik mobil umum secara estafet dari Makassar ke Pangkep, dari Pangkep ke Parepare. Lalu dari Parepare ke Sengkang. Kami menyusul Ustadz K.H. Djamaluddin Amien, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Bang Ir. Andi Mitro Jayadi. Tujuannya adalah menghadiri acara halal bi halal yang diadakan oleh IRM Ranting Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara yang dipimpin oleh adinda Munawwar Khalil.




Kami diinapkan di rumah yang cukup mewah. Berlantai tiga. Berada di Jalan Jawa, pusat Kota Sengkang. Di dalam rumah itu, penuh dengan kain-kain, batik sutra dan pakain-pakaian. Rumah sekaligus toko. Namanya Toko Arma Baru. Mulai dari lantai satu hingga lantai tiga. Bahkan untuk naik ke lantai tiga, mesti melalui tumpukan pakaian atau sarung-sarung yang terbungkus rapi. Sesaat sebelum kami kembali ke Ujung Pandang (saat itu belum berganti nama kembali menjadi Makassar), sang pemilik menyuruh kami untuk mengambil pakaian atau sarung yang dikehendaki. Semua kami dapat jatah, termasuk Pak Kiyai. Alhamdulillah. 




Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Hari ini, pemilik rumah toko tersebut, telah meninggal dunia, memenuhi panggilan Ilahi Rabbi. Namanya adalah Haji Dahlan Ware. Beliau merupakan tokoh utama Muhammadiyah di Kabupaten Wajo. Beliau sangat mencintai organisasi ini. Anak-anaknya disekolahkan di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Sulawesi Selatan Gombara, Ujung Pandang. Beliau pernah beberapa periode menjabat sebagai bendahara dan pengurus Muhammadiyah Cabang  Pattirosompe. Saya pernah diberitahu oleh seorang teman, bahwa jika mereka akan mengadakan kegiatan atau pengkaderan, selalu datang ke rumah ini. Menyerahkan proposal. Tidak pernah mereka pulang dengan tangan kosong. Selalu mendapat bantuan dana. Maka untuk mengadakan pengkaderan, jangan khawatir masalah dana. Haji Dahlan Ware, siap selalu membantu.




Beberapa tahun kemudian, paling tidak empat kali saya nginap di rumah ini. Bersama dengan Ustadz H. Syaiful Saleh, Ustadz H. Abdul Kadir Sarro (alm), dan lain-lain. Semuanya adalah dalam rangka menghadiri acara Muhammadiyah atau Angkatan Muda Muhammadiyah. Lagi-lagi jika kami bermalam di sini, selalu mendapat hadiah sarung. Saya juga pernah bermalam di rumah ini awal tahun 2000-an. Saat itu kami memasilitasi anak-anak dari Maluku yang merupakan korban konflik bersaudara. Sebagian anak-anak itu, di bawa ke Wajo untuk disekolahkan. Beberapa anak-anak itu, tinggal di rumah ini dan menjadi semacam anak angkat dari Pak Haji Dahlan Ware. 




Di samping beberapa hal di atas, hubungan saya dengan Haji Dahlan Ware masih ada. Bukan hubungan pribadi, tetapi hubungan organisasi. Saya tahu bahwa beliau adalah pedagang dan pengusaha Muhammadiyah yang sangat dermawan. Sejak awal pembangunan gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Tamalanrea, selalu kita mengirim proposal permohonan bantuan dana. Saya yang mengetik undangan dan alamat para donatur yang dituju, lalu mengirimkannya lewat pos. Salah satu yang tidak pernah lewat saya kirimi adalah beliau. Tiap tahun pada saat menjelang bulan suci Ramadan. Dan saya tahu, dari tahun ke tahun, beliau selalu mengirim bantuan dana untuk pembangunan gedung ini. Jika dicek ke bendahara panitia, namanya akan terlihat sebagai donatur berikut dengan jumlah yang beliau sumbangkan. Jumlah yang lumayan banyak.




Semoga Allah Swt., menerima segala amal ibadahnya. Memberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, diberikan kesabaran dan ketabahan. Amiin ya Rabbal ‘alami.




Wassalam

Wollongong, NSW, Australia, 16 Agustus 2020 ba’da Ashar


Artikel ini sudah dimuat dalam : http://www.khittah.co/haji-dahlan-ware-dermawan-muhammadiyah-wajo/18105

Komentar

Tampilkan

  • H Dahlan Ware, Dermawan Muhammadiyah Asal Wajo
  • 0

Terkini

Topik Populer

Iklan